Event Komunitas Online

Simak Rasanya Trekking Gunung Everest dalam Kotekatalk-55 Sabtu Ini

28 September 2021 05:00:00 Diperbarui: 28 September 2021 15:03:30 295

Hari

Jam

Menit

Detik

Sudah Berakhir
Simak Rasanya Trekking Gunung Everest dalam Kotekatalk-55 Sabtu Ini
Ke Nepal, yukkkk (dok.Koteka)

Hallo, everyone.

Semoga sehat dan bahagia, semuanya.

Sabtu lalu, Komunitas Traveler Kompasiana sudah menjamu 188 peserta yang hadir untuk menyimak paparan Dubes LBBP RI Norwegia dan Islandia, Bapak H.E. Prof. Todung Mulya Lubis, SH., L.LM. yang mengulas tentang Norwegia, situasi pandemi di sana dan apa yang bisa kita contoh dari mereka, misalnya tentang HAM.

Dalam Kotekatalk 54, bapak dubes juga mendukung adanya kerjasama antara KBRI Oslo dengan D3 Keperawatan Blora Poltekkes Semarang, supaya suatu hari terjalin kerjasama dengan universitas lokal atau lembaga lokal yang menampung perawat dari Indonesia untuk bekerja di sana. Selama ini didominasi dari Philipina. Kalau mereka bisa, kitapun harus bisa. 

Syaratnya, nggak hanya mengandalkan bahasa Inggris tapi menguasai bahasa lokal, bahasa Norwegia. Ini yang harus dipersiapkan pihak kampus yang berkepentingan untuk menembus masa depan. 

Jika tidak tercapai dalam masa jabatan beliau, bapak dubes yakin akan diteruskan oleh dubes penerus. Menurut bapak dubes, orang Indonesia dipandang lebih telaten jadi perawat, lebih halus, lebih sabar. Ini yang mungkin akan menjadi aset soft skills tandingan dari negara lain. Seribu satu.

Setelah satu jam berlalu, bapak dubes pamit karena ada acara lain dan foto bersama sebagai kenang-kenangan dengan tokoh Indonesia yang memang sangat populer dengan kekuatan ilmu hukum yang dimiliki.

Zoom diteruskan dengan cerita sekitar Oslo, sebagai ibukota Norwegia. 

Gana Stegmann, salah satu admin Komunitas Traveler Kompasiana dan Kompasianer of the year 2020 berbagi kisah pengalamannya backpacking selama 5 hari di sana. 

Merasa beruntung tinggal di Jerman, yang tak jauh dari Norwegia membuatnya sangat mungkin dan mudah untuk ke sana. Niatan mendadak yang tadinya ingin berdua dengan suami menjadi solo traveling, tak membuatnya patah arang. Memiliki libur 2 minggu dalam satu semester ingin dimanfaatkannya. 

Maklum, ibu RT ini sekarang masih menjadi siswa PGTK di Jerman. Dengan bekerja dan atau sekolah selama 8 jam per hari, tentu rasanya penat selama setahun pendidikan. 

Makanya, tidak boleh disia-siakan kesempatan jalan-jalan ke negara tetangga. Ia merasa tabungannya sudah cukup mengingat tiap bulan ada sokongan dari lembaga, jadi bisa digunakan untuk traveling yang bermanfaat.

Norwegia dipilih karena teringat salah satu kawan baiknya, Dr. Thien  yang pernah mengisi zoom tentang Auroa di Greenland. Norwegia juga merupakan daerah hijau di wilayah EU yang bisa didatangi selama masa pandemi, dengan mengantongi kartu digital vaksin EU. 

Ini sangat menguntungkan karena antrian yang sudah divaksin lebih sedikit, 1-2 meter, sedangkan antrian orang yang PCR, sampai 20 meteran. Perjalanan lancar, tinggal ngasih liat aplikasi di HP.

Perjalanan 6 jam ke Oslo dari Jerman (2 jam dari Zuerich ke Amsterdam, transit 2 jam, Amsterdam-Oslo 2 jam) sudah bukan hal yang berat karena Gana sudah terbiasa pakai masker selama 8 jam baik ketika bekerja atau sekolah selama 1 tahun. Yang tidak terbiasa pakai masker, pasti berat naik pesawat lama-lama. Jangan malas pakai masker, ya? Training, tuh.

Dengan berbekal ransel 3 kg, banyak tempat wisata yang dikunjungi meski hanya selama 5 hari. Semuanya dengan jalan kaki (10-18 km/hari), kecuali yang nyebrang laut harus pakai kapal karena kalau berenang bisa jadi es lilin. Adem.

Selain legenda Viking yang dikunjunginya di Museum Viking yang tahun ini tutup dan baru dibuka entah kapan setelah renovasi, Gana mengunjungi museum Yahudi, rumah para korban Nazi, kuburan-kuburan tua berumur ratusan tahun dari para tokoh Oslo, pulau-pulau kecil di sekitar Oslo, KBRI Oslo untuk menghadap bapak dubes, shopping street, food street, royal palace, institut Nobel dan Vogelland Park. 

Berjalan sendirian di sana rupanya aman dan nyaman. Ditambah, suasana di sana seperti corona sudah lewat. Rasanya beda, tapi Gana tetap pakai masker, supaya nggak sakit sampai kembali melewati Swiss dan Jerman nanti.

Seru banget, deh.

Terima kasih kepada bapak Dubes, mas Hendra pensosbud, pak Aldi bagian ekonomi KBRI Oslo, bapak kaprodi D3 Keperawatan Blora  bapak Joni Iswanto, S.Kp, M.Kes dan kajur bapak Suharto, S.Pd, MN, Kompasianer Yuni Astuti sebagai salah satu dosen dan mahasiswa (Restika cs) yang membantu terselenggaranya acara kerjasama dengan Koteka ini. Semoga membawa manfaat dan menginspirasi di masa mendatang.

Nah, dari Oslo, mimin Koteka ajak kalian semua ke Nepal. Mas Rahmat Hadi akan  berbagi pengalamannya naik gunung Everest di sana. Mas Hadi yang buka cafe kopi di Yogyakarta ini akan menggungah kita semua yang masih muda dan suka naik gunung atau pecinta alam untuk mengikuti jejaknya. 

Kalau mau pasti bisa, asal tahu caranya yang baik dan benar supaya nggak nyasar waktu ke Everest apalagi pingsan. Apa saja tips dan tricknya? Mengapa ia naik Everest? Apa tanggapan orang-orang setelah ia pulang? Bagaimana proses pembuatan buku Everest?

Untuk tahu jawabannya, kami undang semua pada:

  • Hari/Tanggal: Sabtu/ 2 Oktober 2021
  • Pukul: 16.00-17.30 WIB atau 11.00-12.30 CEST Berlin.
  • Tempat: zoom
  • Pendaftaran gratis: bit.ly/kotekatalk55
  • Hadiah: 1 voucher VIU

Yup, kalau kita hanya bisa berangan-angan naik gunung Everest, wajib ikut zoom Koteka bersama mas Hadi. Buat yang merasa nggak kuat adem, pasti tetep anget memandang foto-foto dokumentasi dan cerita dari Mas Hadi. Yakinlah.

Jumpa Sabtu.

Koteka, dibawa ke mana saja, tiada gantinya. (AG)