Event Komunitas Online

Yuk, Simak "3 Haji 1 Tujuan" di Kotekatalk-60 Sabtu Ini

02 November 2021 10:30:00 Diperbarui: 22 November 2021 17:14:49 373

Hari

Jam

Menit

Detik

Sudah Berakhir
Yuk, Simak "3 Haji 1 Tujuan" di Kotekatalk-60 Sabtu Ini
Simak pengalaman 3 haji Sabtu ini (dok.Koteka)

Hallo everyone. 

Apa kabar? Masih sehat dan bahagia, bukan.

Sabtu lalu Komunitas Traveler Kompasiana mengajak kalian semua ke Jerman, tepatnya Freiburg dan Lahr. Itu tempat di mana Alena Ehrlich berada. Ia, redaktur sebuah koran lokal Badische Zeitung di Lahr (yang bermarkas di Freiburg). Mengapa ia terpilih sebagai tamu dalam Kotekatalk Koteka?

Sebabnya, ia adalah salah satu wartawan Jerman yang mewawancarai admin Koteka Gana Stegmann yang mempromosikan wisata dan budaya Indonesia di Jerman. Dua artikel telah dilahirkan olehnya. Membahas wisata Indonesia dan satunya, budaya Indonesia  dari Sabang sampai Merauke dalam menyambut natal dan tahun baru tiap tahunnya.

Artikel tersebut tentu saja membuka wawasan orang Jerman yang multikultural, terdiri dari bangsa lokal, Jerman dan pendatang (dari seluruh dunia), termasuk pengungsi yang membacanya. Indonesia, memang bukan hanya Bali, seperti kebanyakan orang sangka di sana.

Dalam Zoom yang bekerjasama dengan Jurusan Bahasa Jerman Universitas Negeri Surabaya dan Jurusan Bahasa Jerman STBA YAPARI ABA Bandung itu, diikuti oleh 100 peserta. Tema yang dibahas mencakup jurnalistik dan wisata "How to succeed in journalism in Germany and Freiburg at a glance."

Alina Ehrlich menceritakan awal mula menjadi wartawan. Waktu itu berumur 17 tahun. Ia mengikuti program dobel Ekonomi dan jurnalistik, sembari nyambi kerja di sebuah media (yang mendanai studinya). Setelah itu, ia tiga tahun internship di Media Schwabia. Usai program, ia menjadi redaktur di koran itu selama setahun. Dan baru-baru ini, ia pindah ke tempat kelahirannya di Lahr, menjadi redaktur koran lain Badische Zeitung. 

Ia berkisah tentang bagaimana gambaran ia bekerja. Karena ia sebagai redaktur, ia lebih banyak berada di kantor, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa ia turun sendiri di lapangan. Headline dan tema yang akan diangkat biasanya dibicarakan dalam meeting pertama pada pagi hari dan akan digodog lagi pada meeting kedua pada sore hari, jika ada hal yang mendesak, breaking news akan mampu menggeser HL yang sudah masak tadi.

Salah satu hal yang mungkin berbeda dengan di Indonesia, Jerman sangat menghargai kode etik wartawan. Artinya kebebasan wartawan dan kepatuhan wartawannya mengacu pada kode tadi. Salah satunya, tidak menerima amplop. Menghargai data pribadi yang didapat saat bekerja, menjadi salah satu hal yang harus ia ingat. Jerman dalam kehidupan pribadi saja, orang sangat mengutamakan ini. Mau mengunggah foto orang di medsos harus tanya, bahkan kalau perlu pakai surat tertulis. 

Ketika ditanya apakah ia mendapatkan perlakuan tidak enak atau tidak nyaman selama berkecimpung di dunia jurnalistik, ia hanya tersenyum. Menurutnya masih dalam taraf wajar, seperti narasumber tidak mau menjawab satu patah katapun saat diwawancarai. Tidak ada kekerasan fisik yang ia alami.

Kesan dan pesannya, jika ada anak muda Indonesia yang ingin menjadi wartawan di Jerman, tak hanya mampu berbahasa Jerman (syukur-syukur bahasa asing lainnya) tapi juga mengikuti cara-cara seperti: rajin menulis (blog atau di media cetak/elektronik) karena ini akan menjadi referensi saat melamar, kedua, tak perlu melulu belajar di jurusan komunikasi atau jurnalistik lantaran banyak rekannya yang berasal dari jurusan sejarah, ekonomi, politik dan budaya namun pandai menulis. Ketiga, mengikuti program Ausbildung atau sekolah sambil bekerja yang di Jerman disebar di setiap kota besar. Ini sebuah keuntungan tersendiri karena tak hanya belajar tapi juga langsung terjun di lapangan. Ditambah ada uang saku per bulannya yang ini tentu menjadi support dari segi ekonomi. 

Nah, tertarik menjadi wartawan di Jerman? 

Baiklah, Sabtu ini, kami ajak kalian untuk menyimak tema berkaitan dengan dibukanya kesempatan umroh dari Indonesia. Mengusung judul "3 Haji 1 Tujuan," kami mengundang 3 haji dari 3 generasi yang memiliki pengalaman berbeda saat menunaikan ibadah kelima umat Islam ini. 

H.Taufik Uieks sudah tak asing lagi bagi kita. Kompasianer yang juga penulis buku "Menuju Rumah Baitullah" itu memang sudah lama sekali naik haji, namun kisahnya kami yakin akan mampu menginspirasi.

H.Jose Dizzman Diaz adalah salah satu admin Koteka yang saat ini ada di serambi Mekah. Mas Diaz akan berbagi bukunya bagi peserta yang beruntung. Saking cintanya dengan Kompasiana, naik Hajipun semua perangkat berkenaan dengan Kompasiana dibawanya. 

Terakhir, haji termuda dari Kotekatalk-60, Ketut Purwantoro. Ia adalah founder Dejavato Foundation yang bergerak di bidang sosial (mengirim dan menerima relawan dari seluruh dunia untuk bakti sosial). Banyak pengalaman lucu baginya yang justru memperkaya nuansa masa mudanya. Apa sajakah itu? Simak di zoom Kotekatalk:

  • Hari/Tanggal: Sabtu, 6 November 2021
  • Pukul: 16.00-17.30 WIB (Jakarta) atau 10.00-11.30 CET (Berlin)
  • Pendaftaran gratis: bit.ly/kotekatalk60
  • Hadiah: merchandise dan buku

Jangan lupa daftar dan catat tanggalnya dalam kalender. Mari lawan corona pakai konten!

Jumpa Sabtu. (GS).