Event Komunitas Online

Peluang Menjadi Perawat di Jerman dan Sekilas Oberbayern

09 Maret 2022 00:00:00 Diperbarui: 10 Maret 2022 04:08:59 620

Hari

Jam

Menit

Detik

Sudah Berakhir
Peluang Menjadi Perawat di Jerman dan Sekilas Oberbayern
Ingin jadi perawat di Jerman? (Dokumentasi Koteka)

Hi, everyone.

Apa kabar? Tetap sehat dan bahagia, kan.

Sabtu lalu Komunitas Traveler Kompasiana sudah mengajak kalian jalan-jalan ke Osnabrueck, Jerman, di mana Dian Yusvita Intarini, seorang staff Dala Institute for Environment and Society telah banyak berbagi informasi tentang bedanya pertanian dan petani Jerman dengan di tanah air Indonesia.

Oh, ya, kabarnya kota itu sebesar Bogor. Hanya saja, penduduk di sana lebih sedikit. Mau pindah ke sana? Lumayan dekat dengan Ukraina, sih....

Nah, Dian yang lulusan UGM Jurusan Kehutanan, lalu meneruskan studi agriculture ke Jerman dan Belanda ini tinggal di daerah pedesaan yang masih banyak lahan, di mana para petaninya juga masih rajin. 

Betapa tidak, mereka ini mendapat perhatian besar dari pemerintah setempat. Misalnya saja, pengurangan pajak. Lumayan, meringankan beban hidup yang standarnya lebih tinggi dari Indonesia. Pajak di Jerman bisa sampai 30% dari gaji. Banyak, ya. Jadi keringanan pemda ini, menjadi satu fasilitas bagi petani yang harus dimanfaatkan.

Dikatakan ibu tiga anak itu, Jerman memiliki tiga jenis petani. Pertama yang masih memegang adat alias klasik. Kedua adalah Demeter, yakni mereka yang membuat pupuk sendiri. Ketiga, mereka yang tidak memegang adat atau modern.

Di sana beberapa petani mengolah lahannya sebagai organic farming. Yaitu dengan produk Bioland, Demeter, tanpa pestisida dan solawi (Solidaritaet Land Wirtschaft). 

Solawi itu memungkinkan petani mendapat bantuan relawan seperti tetangga dan keluarga yang menyukai bercocok tanam, untuk mengolah lahan. Mereka akan diberi kompensasi hasil bumi. Misalnya, sekotak sayuran dan buah-buahan. Jadi nggak digaji, lho. Atas dasar senang dan hobi. Tapi ternyata, mereka bahagia.

Perlu diketahui, penduduk yang besar dan hidup di daerah pertanian, disinyalir memiliki kualitas hidup yang lebih baik dari yang ada di kota. Misalnya lebih happy dan lebih sehat. Apalagi anak-anaknya. Bagaimana nggak, hasil bumi dari lokal, nggak ada banyak polusi seperti di kota dan aman-tentram-damai. Mau coba?

Sayangnya, meskipun masih banyak generasi muda Jerman yang meneruskan bercocok tanam sebagai salah satu mata pencaharian di negeri sosis itu, ternyata dikhawatirkan ada kekurangan pangan akibat perang Rusia - Ukraina. 

Ukraina adalah pengekspor utama produk gandum ke Jerman. Malah dengar-dengar, harga mie di Indonesia bisa naik karena banyak mengimpor dari Ukraina juga, kan. Sedangkan di sana sudah dibumihanguskan karena keegoan manusia. Nggak bisa menanam gandum, dong! Sumbernya lenyap.

Semoga saja, misi serangan segera berakhir, supaya kondisi aman terkendali dan dunia damai.

Di Jerman sendiri, para petani hanya menanam satu kali dalam setahun demi menghasilkan pundi-pundi. Seperti gandum atau jagung. Sedangkan tanaman lainnya di setiap musim hanya sebagai penggembur tanah. Sebab, jika mau dipanen, eee sudah rusak duluan. Jadi di sana ada tumpang sari kayak di Indonesia, lho. Sama. Hanya saja di Jerman, musimnya ada 4: dingin, semi, panas, dan gugur.

Baiklah, dari Jerman Utara, kami ajak kalian semua ke Jerman Tengah. Di daerah Oberbayern. Di sana, Chae atau Chaeriyah Nur Buehrer akan bercerita tentang keindahan alamnya. Iya, sedang musim ski. Mau tahu bagaimana ia yang orang Indonesia menikmati benda putih yang dingin itu? 

Daerah itu terkenal dengan Zugspitze, gunung yang selalu ada saljunya walau panas matahari di musim panas menyinari. Gunung itu ada di perbatasan tiga negara; Jerman, Swiss dan Austria. Asyik, ya. Danau Elbsee juga keindahan tiada tara yang harus dikunjungi di sana. Apalagi tempat wisata yang asyik yang bisa kita kunjungi?

Selain itu, yang menjadi topik utama Zoom Koteka kerja sama dengan KJRI Frankfurt dan Poltekes Kemenkes Kupang ini adalah peluang menjadi perawat di Jerman. Tambahan info, Poltekes Kupang sudah memasukkan muatan bahasa Jerman dalam kurikulumnya. 

Orang Jerman nasionalis, sangat menghargai bahasa sendiri. Perlu dicontoh! Kemampuan berbahasa Jerman, tentu demi membidik kesempatan di Jerman yang membutuhkan banyak perawat. Maklum, Jerman memiliki piramida terbalik alias jumlah lansianya lebih banyak dari generasi muda. Butuh perawat pribadi!

Bagaimana cara Chae menjadi perawat di Jerman? Bukankah waktu datang ke Jerman, ia baru berumur 17 tahun? Berapa gaji perawat di sana? 

Bagaimana ia mendapatkan pekerjaan sebagai perawat di rumah sakit Muenchen? Apa enak-nggak enaknya jadi perawat di luar negeri? Apa saja yang harus dipersiapkan untuk mendapatkan visa bekerja di Jerman? Bagaimana kalau ada masalah dengan perusahaan tempat bekerja?

Untuk tahu jawabannya, kami sudah mengundang bapak Acep Somantri, Konsul Jendral KJRI Frankurt dan Chae untuk berdiskusi dengan kita dan mahasiswa serta masyarakat umum yang tertarik membahasnya. Dijamin seru bangat.

Ya. Dengan bangga, kami mengundang kalian pada:

  • Hari/Tanggal: Sabtu, 12 Maret 2022
  • Pukul: 16.00 WIB atau 10 CET Berlin
  • Pendaftaran: bit.ly/kotekatalk79
  • Hadiah: Voucher Koteka

Segera mendaftar karena tempat terbatas dan catat dalam kalender, supaya nggak lupa.

Sampai jumpa Sabtu.

Salam Koteka. (GS).