Event Komunitas Online

Ayo, Tengok Dieng, Negeri di Atas Awan dalam Kotekatalk-98

15 Juli 2022 00:00:00 Diperbarui: 15 Juli 2022 09:46:53 135

Hari

Jam

Menit

Detik

Sudah Berakhir
Ayo, Tengok Dieng, Negeri di Atas Awan dalam Kotekatalk-98
Sabtu ini kita berkunjung ke tempat para dewa (dok.Koteka)

Hi, everyone. Apa kabar?

Masih sehat dan bahagia?

Sabtu lalu mimin sudah mengajak kalian jalan-jalan  virtual ke Norwegia. Di mana ada mbak Aris Retnowati, General Manager Hotel di Yogyakarta yang menceritakan pengalaman putrinya, Ruth yang tenggelam di danau Nedre Jegersbergvann Kristiansand. 

Sharing yang berdasarkan true story ini tentu merupakan kesempatan 1001. Menceritakan kisah sedih yang berujung happy ending itu tentunya membawa perasaan yang mengharu-biru. Bagaimana awal mula kejadian naas tersebut?

Awalnya, Ruth, putri mbak Retno yang menjadi mahasiswi UGM, mendapat kesempatan 1 semester untuk belajar di Universitas Eiden di Belanda selama 1 semester. 

Saat Mei, Ruth bersama kawan-kawan libur sekolah selama 2 minggu dan ingin mengunjungi temannya di Norwegia. 

Di sana, mereka berenang di danau yang biasa dikunjungi wisatawan, danau Nedre. 

Pada hari pertama, ia memimpin dan memotivasi teman-temannya untuk warming up supaya tidak kram berenang di air danau yang tergolong dingin untuk kategori orang Indonesia. Pada hari itu, mbak Retno masih berkomunikasi dengan Ruth, semua baik-baik saja. 

Pada hari kedua, Ruth bersama teman-teman ke sana lagi. Ruth tenggelam selama 3 menit karena mengalami kram. 

Teman-teman berusaha  menolong tapi nggak berhasil karena danau dalam. 

Teriakan minta tolong didengar seorang pemuda Eropa yang sedang berjemur di tepi danau. Lalu, ada seorang perempuan yang membantu pernafasan supaya air yang masuk di dalam tubuh Ruth keluar. 

Tidak ada nafas yang dihembuskan Ruth waktu itu.  Baru 10 menit kemudian, Ruth bernafas. Dipanggillah 911-nya Belanda. Dalam tempo sekian menit, Ruth dibawa helikopter menuju rumah sakit selama 1,5 jam. 

Setelah kejadian, dokter yang menangani menelpon mbak Retno. Waktu itu pukul 02.00 dini hari di Indonesia. Ditelpon nomor asing, luar negeri lagi, mbak Retno mengira itu penipuan. Namun setelah meyakinkan bahwa penelpon tidak menginginkan apapun darinya, ia pun percaya. 

Komunikasi dijalin setiap 30 menit sekali untuk mengabarkan kondisi up date Ruth yang dimasukkan dalam ruang pendingin untuk menyetarakan kondisi tubuh yang dingin dari air es Nedre dengan suhu ruangan, sebelum perawatan lebih lanjut. 

Beruntung organ-organ dalam Ruth tidak rusak. Setelah suhu tertentu, Ruth yang koma 5-6 hari, baru bisa dibangunkan oleh tim medis. 

Perihnya sang ibu tak hanya sampai di situ, membayangkan putrinya melawan maut sendirian tanpa keluarganya. 

Mbak Retno hanya bisa berdoa dari Indonesia. Dan tentu, mengurus keberangkatan ke sana yang tidak semudah membalikkan telapak tangan. 

Pertama, paspor mbak Retno sudah kadaluwarsa, dan hari itu adalah malam takbir hari Raya, artinya kantor-kantor tutup.  Paspor baru jadi tanggal 10 Mei 2022. 

Untuk mengurus visa, tidak ada kedutaan yang bisa membantu izin berkunjung ke Norwegia. Paspor harus dikirim ke Bangkok. Padahal di sana, tanggal 12-15 Mei 2022 adalah hari Waisak. Lagi-lagi kantor-kantor libur. 

Mbak Retno kemudian melampirkan cuplikan media massa di Eropa yang mengekspos kejadian putrinya tenggelam di danau Nedre. Visa pun jadi selama 24 jam. 

Rintangan berikutnya adalah, tidak ada tiket ke Belanda. Semua tiket habis. Baru pada H-1 (tanggal 21 Mei) ketika ada penumpang yang membatalkan tempat duduknya, ia mendapatkan tiket. Harganya sudah 50 jutaan rupiah padahal biasanya hanya 1/5 nya. Tuhan memang memberikan pertolongan pada umatnya yang kesusahan.

Tanggal 22 Mei 2022, mbak Retno bertemu dengan Ruth di Belanda. Berat badan Ruth yang tadinya 58 kg menjadi 39 kg alias hilang 20 kg pasca tenggelam. 

Yang mengkhawatirkan lagi adalah, Ruth tidak ingat bahwa ia ke Norwegia bersama teman-temannya, berenang di danau dan tenggelam. Ia hanya tahu, ia berada di Belanda, satu hari sebelum peristiwa yang hampir merenggut nyawanya itu. 

Selama 10 hari di Belanda, mbak Retno bahagia  bahwa Ruth semakin pulih, walaupun ingatannya belum sempurna. Berat badan Ruth sudah bertambah menjadi 45 kg. 

Sebelum kembali ke tanah air dan terapi supaya Ruth kembali ingat kejadian di danau, mbak Retno mengajak sang gadis ke Norwegia untuk berterima kasih kepada semua orang yang telah menolongnya pada hari itu. Mulai dari pemuda yang berjemur, perempuan yang memberikan pernafasan buatan, sampai tim medis di rumah sakit yang merawatnya. Bahkan, mbak Retno sowan ke KBRI Oslo dan KBRI Denhaag untuk berterima kasih dan pamitan. 

Apa yang bisa kita ambil hikmahnya dalam Kotekatalk kali itu?

Yang pertama, karena kita traveler suka jalan haruslah tetap hati-hati dan waspada. Jangan pergi sendirian, supaya kalau ada apa-apa ada yang siap membantu atau mencari bantuan.

Kedua, pelestarian budaya Indonesia harus kita pegang di manapun kita berada. Di Belanda, ada acara syukuran dengan upacara adat, di mana Ruth dikalungi Ulos. Kain tradisional Batak itu meruwat Ruth, menolak bala, supaya kejadian buruk nggak terulang. 

Kegiatan atas inisiatif dari salah satu staf dari KBRI di Belanda. Acara berdoa bersama dengan keluarga Ruth juga dilakukan secara online. Termasuk doa bersama di gereja Batak di  Belanda. 

Inisiatif sowan ke 2 KBRI dan tim penolong serta medis di Norwegia merupakan contoh balas budi yang biasa dilakukan orang Indonesia untuk mengucapkan terima kasih. Menghadap sendiri. 

Ketiga, betapa kecepatan penanganan pasien gawat darurat di Eropa seperti Norwegia sangat bagus. Tidak perlu ditanya punya kartu Askes tidak, mampu bayar perawatan nanti tidak, mau tanda tangan pernyataan tidak, pasien langsung diangkut dengan helikopter untuk mempercepat kedatangan ke rumah sakit yang mampu membantu pasien.

Keempat, ujian keimanan manusia ada di peristiwa naas ini. Jika tidak kuat, bisa sakit atau tidak percaya keajaiban Tuhan ada di mana-mana. Dukungan doa dari orang-orang terdekat juga merupakan gambaran keimanan manusia terhadap Sang Khalik. 

Kelima, banyak tempat wisata yang pantas kita kunjungi. Tidak hanya wisata modern tapi juga alam. 

Baiklah, dari Norwegia, kita kembali ke Indonesia. Kali ini seri "Wonderful Indonesia" mengusung tema Dieng, negeri di atas awan. 

Kalian sudah pernah ke sana? Mau ke sana? Atau belum pernah ada pikiran sekalipun untuk mengunjungi daerah yang dingin, yang memiliki peninggalan candi tua, danau warna, keindahan pegunungan dan pertanian yang menarik dengan terassiringnya. Belum pernah makan tempe kemul, mie ongklok, carica paprika? Kalian harus ke sana.

Nama Dieng sendiri berasal dari kata "Dihyang" yang dalam bahasa Jawa Kuno tempat para leluhur. Maklum, daerah ketinggian di atas 2000 meter, biasanya adalah tempat para dewa karena mereka hanya berada di daerah tinggi. 

Buktinya, dalam prasasti Gunung Wule bertanggal 861 Masehi. Saking tinggi dan dinginnya, nggak heran ada upas atau embun yang seperti kristal es di permukaan Dieng. Atau wedus gembel, gumpalan awan yang dari atas, turun ke bawah perlahan-lahan.

Rambut gimbal juga merupakan satu keunikan daerah ini. Ada ruwatan untuk anak-anak yang memiliki rambut ruwet nggak bisa disisir, menyerupai gembel di pinggir jalan. 

Konon, setelah upacara anak tidak lagi memiliki rambut gembel dan hidupnya lebih baik karena hal-hal negatif dihilangkan dalam upacara adat.

Wilayah Dieng meliputi Dieng Kulon di Banjarnegara dan Dieng Wetan di Wonosobo. Sebelah barat berbatasan dengan Jabar. 

Wilayah utara  dengan wilayah pantai utara Pekalongan dan Batang (bekas Keresidenan Pekalongan). Daerah  timur berbatasan dengan Temanggung dan Magelang (bekas Keresidenan Kedu). 

Di Selatannya adalah  Kebumen. Asyik juga merencanakan tur kota-kota tersebut selama tur Dieng, bukan? Sekali mengunjungi Dieng, dua tiga kota terlampaui. 

Tidaklah heran jika Dieng dengan SDM petani, menjadi penghasil sayur-sayuran terbesar di Jawa Tengah. Daerah sehat, teman-teman. Udaranya sejuk dan banyak sayur mayur segar. 

Untuk itu, ada Mas Ova dari BDS Bhaskara Wonosobo/ Yayasan konservasi lingkungan KOLING Wonosobo, yang akan menceritakan keindahan Dieng dan sekitarnya. 

Simak ulasannya pada:

  • Hari/Tanggal: Sabtu, 16 Juli 2022.
  • Pukul: 16.00 WIB atau 11.00 CEST Berlin
  • Pendaftaran: bit.ly/kotekatalk98
  • Hadiah: voucher pulsa Koteka

Daftar ya, catat tanggalnya dalam kalender supaya nggak lupa. 

"Ke Bogor jangan lupa mampir ke istana. Di Istana ada bunga Raflesia. Bersama Komunitas Traveler Kompasiana, kita bangkitkan pariwisata Indonesia." (Sandiaga Uno, Kotekatalk-83)

Jumpa Sabtu. (GS)